Cara Mudah Buat E-Paspor

Agustus lalu saya menyempatkan diri untuk mengurus pembaharuan paspor menjadi e-paspor. Alasannya sederhana sih, supaya bisa pergi ke Jepang tanpa harus mengajukan aplikasi visa. Harga visa Jepang kini juga mengalami kenaikan sejak Kedubes Jepang bermitra dengan VFS untuk proses penerbitan visa. Saya pikir, daripada harus mengurus persyaratan dokumen visa yang ribet dan kadang membingungkan, maka lebih baik saya investasi materi dan tenaga untuk ganti ke e-paspor dan registrasi waiver bebas visa di Kedubes Jepang (gratis loh! Nanti saya bahas ya).

Sebelum saya bagikan tiga langkah mudah untuk memperoleh e-paspor, ada sedikit disclaimer untuk cerita ini: saya sudah memiliki paspor biasa dan masih dalam masa berlaku (hingga 2020). Hal ini (mungkin) akan membedakan dengan pendaftar lain yang pertama kali registrasi e-paspor maupun yang paspor lamanya hilang.

 

Langkah 1 : Unduh aplikasi ‘Antrian Paspor’ dan Buat Akun Baru

Hingga blog ini dibuat, aplikasi yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Imigrasi – Kemenkumham RI ini, hanya tersedia untuk sistem operasi Android (soalnya susah develop untuk iOS, hahaha). Aplikasi ini berfungsi untuk melakukan pendaftaran nomor antrian aplikasi paspor (iya, bisa untuk paspor dan e-paspor).

Setelah diunduh, pilih menu ‘Masuk’ untuk membuat akun. Untuk mengetahui persyaratan dokumen yang harus disiapkan, pilih menu ‘Persyaratan’.

e-paspor blog 1
Tampilan awal aplikasi ‘Antrian Paspor’

Setelah membuat akun, pilihlah lokasi kantor imigrasi yang sesuai dengan preferensi. Ketika itu saya memilih Kanim Jakarta Utara (dekat Mall Artha Gading), karena dekat dengan lokasi kantor, sehingga lebih mudah untuk mobilitasnya.

e-paspor blog 2
Pilihan Kantor Imigrasi dari Aceh hingga Papua

Sudah menentukan lokasi? Nah, berikutnya ini yang penting – tanggal dan jam kedatangan di kantor imigrasi yang telah dipilih. Karena kuota pendaftar harian yang terbatas, saran saya, agar mendaftar antrian paspor paling lambat seminggu sebelum tanggal kedatangan yang kita inginkan. Sepertinya setiap kantor imigrasi memiliki kuota yang berbeda. Namun jangan khawatir, info soal kuota ini dapat dilihat langsung di aplikasi, atau pantau dan cek updatenya di akun Twitter Kanim yang bersangkutan.

e-paspor blog 3
Menu untuk memilih tanggal dan jam antrian

Konfirmasi untuk Kanim yang dipilih, tanggal, dan jam kedatangan akan tersedia juga di dalam aplikasi dan juga dibuat dalam bentuk file PDF. Jangan lupa untuk datang pada hari dan jam yang telah dipilih, mengingat kuota pendaftar yang cepat terisi. Jika batal hadir pada hari dan jam tersebut, maka kamu harus daftar ulang. Advance prep is a must. 🙂

 

Langkah 2: Siapkan Dokumen Wajib untuk Aplikasi Paspor

Untuk case saya, maupun yang paspor kadaluarsa, hanya ada dua dokumen yang perlu dibawa: PASPOR LAMA (asli dan copy halaman depan paspor) dan E-KTP (asli dan copy). Sedangkan untuk pembuatan paspor baru (baik paspor biasa atau e-paspor), dokumen yang dibutuhkan adalah:

  • KTP yang masih berlaku atau surat keterangan pindah ke luar negeri
  • Kartu keluarga
  • Akta Lahir, Akta Perkawinan atau Buku Nikah, Ijazah, atau Surat Baptis
  • Surat Pewarganegaraan Indonesia bagi Orang Asing yang memperoleh kewarganegaraan Indonesia melalui pewarganegaraan
  • Surat Penetapan Ganti Nama, bagi yang telah ganti nama
  • Surat Rekomendasi permohonan paspor dari Dinas Tenaga Kerja Provinsi atau Kabupaten/Kota bagi calon TKI
  • KTP Ayah atau Ibu, atau surat keterangan pindah ke LN, dan Akta Perkawinan bagi anak WNI
  • Surat Rekomendasi dari Kementerian Agama Kabupaten/Kota dan Surat Keterangan PPIH/PPIU bagi peserta ibadah Haji/Umrah
  • Surat Keterangan Laporan Kehilangan dari Kepolisian bagi yang paspornya hilang dan akan melakukan penggantian paspor

Sudah siap dengan jadwal antrian dan dokumen? Datanglah ke kantor imigrasi yang kamu pilih. Kamu akan disambut oleh petugas yang akan memberikan satu form identitas diri yang harus diisi dan di-submit bersama dengan dokumen lainnya. Saya tidak tahu kalau di Kanim lain, tapi di Kanim Jakarta Utara, form tersebut wajib diisi dengan pulpen warna HITAM.

Selesai mengisi form, saya menunggu petugas untuk memanggil para pendaftar kuota jam 1-2 siang untuk mengambil nomor antrian pengumpulan dokumen. Siang itu Kanim Jakut sangat ramai dengan para ibu dan anak-anak balita. Rasanya seperti berada di Poli Anak, hahaha. Petugas dokumen disana sudah hafal rupanya dengan pendaftar seperti saya – yang paspornya masih berlaku, tapi mau upgrade, hehehe.

Setelah pengecekan dokumen, saya mengambil nomor antrian untuk foto. Ketika sudah diambil foto, petugas akan memberikan tanda bukti untuk pembayaran (transfer bank) dan pengambilan paspor.  Biaya pembuatan e-paspor adalah Rp 655,000, dan membutuhkan sekitar 3 hari kerja terhitung sejak pembayaran dilakukan.

 

Langkah 3: Lakukan Pembayaran dan Ambil Paspor /E-Paspor di Kantor Imigrasi

Lakukan pembayaran melalui transfer bank segera setelah mendaftar e-paspor, sehingga e-paspor dapat segera diproses. Jangan lupa untuk cetak bukti pembayarannya ya.

Untuk pengambilan paspor/e-paspor, mudah dan cepat kok. Tanpa perlu daftar, langsung saja datang ke Kanim tempat kamu mendaftar, dan taruh tanda bukti pengambilan dan bukti pembayaran di loket pengambilan. Tunggu namamu dipanggil petugas loket dan voila! Paspor/E-Paspor baru sudah di tangan. 🙂

Secara fisik, yang membedakan hanyalah e-paspor memiliki chip di dalam buku paspornya. Secara tampilan sih sama saja dengan paspor biasa. Selain itu, katanya, ada jalur antrian khusus di bandara tertentu bagi pemegang e-paspor.

Oh, dan menurut salah seorang kawan yang bekerja di Kemenkumham, pemasukan dari biaya e-paspor ini sebenarnya bagus untuk mendongkrak angka PNBP atau Penerimaan Negara Bukan Pajak. (tapi bayar pajak tetap perlu ya, hehe).

Semoga bermanfaat!

*

Advertisements

(Hampir) Chevening : Sesi Wawancara

Tadinya saya tidak berniat untuk menulis kelanjutan dari post sebelum ini, hahaha. Tetapi daripada gantung, saya sampaikan secara singkat saja ya.

Kembali ke bulan April lalu, saya mengikuti tes wawancara dengan tiga orang panelis di Kedutaan Besar Inggris, di Kuningan, Jakarta. My heart is literally racing, karena ini kali pertama saya mengikuti seleksi wawancara untuk beasiswa. Oh ya, tiga orang panelis tersebut adalah perwakilan dari universitas, koordinator beasiswa, dan seorang alumni.

Selama 30 menit, saya berusaha memaparkan pemikiran dan keinginan yang saya tuangkan sebelumnya dalam bentuk esai. Dari percakapan itulah saya baru memahami sosok kandidat seperti apa yang dicari oleh Chevening. Memiliki visi dan rencana yang realistis adalah salah syarat utama yang harus dimiliki jika kamu ingin memperbesar kemungkinan untuk lolos seleksi. Selain visi yang realistis, visi tersebut juga harus spesifik dan dapat diaplikasikan. Sederhananya, kamu harus paham betul, kamu mau ngapain dan mau jadi apa setelah kembali ke negara asal. In addition to that, maka kandidat juga harus dapat menyampaikan ingin belajar apa di negara/universitas tujuan dan alasan yang konkrit kenapa ingin belajar ilmu tersebut. Di awal wawancara, saya juga ditanyai sih seputar kenapa memilih Chevening dan kenapa ingin belajar di Inggris (regardless post-grad disana yang hanya 1 tahun ya). They would like to hear strong and fundamental answer from your end.

Selain memaparkan kembali soal visi dan ilmu yang ingin dipelajari, kandidat juga harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang negara atau kota yang dituju. Para panelis akan bertanya tentang hal yang ingin kamu lakukan, selain belajar, setibanya kamu di Inggris atau di kota tujuanmu. Misal, selain belajar, kamu ingin mengunjungi tempat tertentu karena kamu sudah lama mengagumi seseorang yang terkenal, seperti ilmuwan, seniman, atau bahkan pemain sepakbola. Artinya, kandidat wajib datang dengan rencana yang komprehensif selama setahun tinggal di UK. Mereka juga ingin dengar apa hobi dan kesukaanmu, apa yang kamu sukai dari UK, termasuk budaya dan hal-hal unik lainnya.

Berhubung waktu dan kuota beasiswa yang terbatas, maka sangat disarankan untuk memaparkan ide dan visimu secara singkat dan jelas, supaya tim panelis dapat langsung memahami apa yang kalian sampaikan. Selain itu, kandidat harus menciptakan kesan pertama yang baik dan menarik bagi para panelis – tidak hanya bahasa tubuh, tapi juga cara kita berbicara.

Jujur sih, melihat background beberapa orang yang saya kenal, yang menerima beasiswa ini, saya langsung agak kecil hati. Ya karena memang sebagian besar dari mereka, either berkarir di bidang social-related/govt-related dan media massa, atau datang dari perusahaan yang komersil namun memang punya ability untuk mengartikulasikan prestasi dan kemampuan mereka.

Saya belajar banyak dari seleksi Chevening ini. Banyak hal yang perlu saya evaluasi, jika ingin mengikuti kompetisi ini. Semoga insight singkat ini bermanfaat bagi kawan-kawan yang akan menempuh Chevening.

*

(Hampir) Chevening: Persiapan Pendaftaran

Disclaimer: Ini bukan kisah sukses saya dalam mendapatkan program beasiswa yang (sangat) saya inginkan. Tetapi semoga tulisan ini bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan dukungan untuk mewujudkan visi dan cita-cita yang mulia. 🙂

*

The idea to join this program came in 2016. Pertama kali saya mendengar Chevening adalah dari salah satu atasan di kantor, sewaktu masih bekerja di sebuah communication firm. Sebagai informasi, Chevening Awards merupakan beasiswa yang didanai secara penuh oleh pemerintah Inggris, untuk seluruh program studi dan universitas manapun di UK ( yang tentunya bermitra dengan Chevening).

Di tahun itu pula saya genap dua tahun bekerja–sudah bisa sih untuk daftar, karena Chevening mensyaratkan kandidatnya untuk memiliki pengalaman profesional selama minimal 2 tahun. Bukan bermaksud untuk banyak beralasan — tapi entah saat itu saya belum memantapkan diri untuk mendaftar.

Memasuki tahun 2017, dan saat itu pula saya memutuskan untuk pindah ke perusahaan lain, barulah saya memikirkan kembali keinginan untuk daftar Chevening. Meski saya sudah membayangkan betapa menyenangkannya bisa sekolah lagi, dan fully-funded pula, saya memulai serangkaian proses ini tanpa mengharapkan apapun (supaya kalau gak berhasil, gak kecewa banget, haha).

1. Pendaftaran

Setiap tahunnya, Chevening membuka pendaftaran dari bulan Agustus hingga November. Tahun 2017, Chevening Awards untuk tahun ajaran 2018/2019 secara resmi dibuka tanggal 7 Agustus hingga 7 November. Seluruh proses pendaftaran dilakukan secara online — ini yang saya suka juga sih, gak ribet. Selain membuat akun pribadi di website Chevening dan melengkapi data pribadi, inilah saatnya kamu mengumpulkan seluruh dokumen yang diminta, seperti:

  • Ijazah S1 (karena ketika itu saya apply untuk program Master)
  • Transkrip nilai
  • Paspor (yang masih berlaku ya)
  • CV (pastikan sudah berisikan informasi terkini)
  • Dua reference letter dalam bahasa Inggris, ditujukan ke British Embassy di Jakarta, dan dibuat tanpa kop surat.
  • Hasil tes IELTS/TOEFL. Saya sarankan untuk mengambil tes IELTS (Academic) saja karena kebanyakan dari universitas di UK menggunakan hasil tes IELTS.
  • Letter of Acceptance (LoA) dari universitas. Surat ini sifatnya bisa conditional maupun unconditional.

Di Chevening, hasil tes IELTS dan LoA bisa menyusul, tidak harus available ketika baru mendaftar online. Tapi in parallel harus disiapkan, jaga-jaga aja siapa tahu kamu berhasil shortlisted ke tahapan berikutnya 🙂

2. Menentukan universitas pilihan

Selain dokumen tersebut, pekerjaan selanjutnya adalah menentukan pilihan universitas beserta program studinya. Butuh waktu untuk memahami apa yang ingin kamu capai dan universitas mana yang mampu memenuhi rasa hausmu terhadap ilmu yang baru. Chevening memberikan 2 syarat sebelum kamu memilih : mendaftarkan 3 program studi yang berbeda dari 1 universitas yang sama, atau, mendaftarkan 3 universitas yang berbeda tapi dengan program studi yang sama. Honestly, I found it a bit confusing with the second statement. Saya pikir ‘sama’ itu artinya harus persis benar nama program studi/jurusannya, tapi ternyata bukan, maksudnya itu similar atau satu jurusan gitu.

S1 saya adalah Ilmu Komunikasi/Public Relations. Sebelum kuliah, saya belajar di sebuah SMK Pariwisata. Ketika sedang mencari-cari universitas, saya menemukan sebuah uni di Skotlandia yang menawarkan kelas opsional tentang ‘Strategic PR and Tourism’. Saya langsung excited, rasanya saya belum pernah menemukan program studi yang mengawinkan dua keilmuan ini. Saya memang punya keinginan untuk bisa menerapkan PR sebagai salah satu media komunikasi bagi industri pariwisata di Indonesia, yang saat ini tengah menjadi salah satu sorotan pemerintah untuk dikembangkan. Ya memang sih, pekerjaan saya saat ini tidak di industri tersebut –karena mungkin belum ketemu jalan kesana, haha.

Anyway, saya langsung mendaftarkan University of Stirling, Scotland di urutan pertama, dengan nama program Master of Strategic Public Relations and Communications Management (MSc). Menyusul pada urutan kedua adalah University of Westminster, London (MA Public Relations), dan posisi ketiga adalah University of Cardiff (MA International PR and Global Communications Management).

Banyak faktor yang kamu harus pertimbangkan sebelum memilih universitas. Lokasi, program studi yang ditawarkan, reputasi atau peringkat universitasnya, alumninya, hingga persyaratan yang harus dipenuhi.

3. Menulis ESSAY! (dalam Bahasa Inggris ya..)

Nah, ini dia bagian yang paling krusial dalam tahap awal pendaftaran Chevening: membuat ESSAY! 🙂 Ada empat topik yang harus diulas, dan setiap topik mensyaratkan 500 kata. Cukup menantang karena saya harus mengartikulasikan ide dan cita-cita saya secara singkat namun cukup jelas dan realistis untuk dipahami. Esai ini sebenarnya seperti sarana untuk ‘jual diri’. Inilah medium awal bagi para kandidat untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki ambisi yang kuat, mampu menjadi pemimpin (yang bepengaruh), dan tahu betul mereka ingin menjadi apa atau melakukan apa saat pulang ke Tanah Air. Selain itu, di dalam tulisan ini, saya juga harus meyakinkan pihak Chevening apa yang menjadi alasan saya ingin kuliah di UK.

Saat menulis esai, pastikan kamu melakukan riset tentang data-data eksternal yang dapat memperkuat tulisan tersebut. Tidak perlu detail, cukup lakukan desktop research saja di internet. Tetapi kalau kamu mau menyampaikan data yang detail, gak masalah juga sih, hehe. Tujuannya adalah membawa ide dan visi yang biasanya mengawang-ngawang itu menjadi lebih relevan, dan juga menunjukkan kepada pihak Chevening bahwa visi kamu itu mampu menjawab tantangan atau permasalahan di Tanah Air.

Paparkan tulisanmu secara terstruktur dan koheren, alias ada kesinambungan antar paragraf dan juga antar 4 empat topik tersebut. Mintalah bantuan kepada orang lain yang kamu rasa mampu untuk melakukan review dan memberikan input terhadap tulisanmu, baik dari segi tata bahasa, diksi, dan kekayaan konten. Kala itu saya meminta bantuan kepada salah seorang senior di kantor lama yang tengah melanjutkan studi Master di bidang komunikasi di Swedia.

Esai ini juga dikumpulkan secara online melalui website Chevening. Pengalaman saya waktu itu, membuat draft dan finalisasi tulisan di Google Doc, sekaligus melakukan revisi. Setelah benar-benar final, baru saya pindahkan tulisan tersebut ke website.

Apa saja sih topik esainya? Saya tidak bahas disini ya 🙂 silakan registrasi dan kamu bisa melihat langsung topik-topik yang ditanyakan, hehehe.

 

Apalagi ya? Rasanya itu saja untuk tahapan pertama beasiswa Chevening ini. On top of that, carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang pengalaman kandidat lain terkait program ini, dan cek juga informasi lengkapnya di http://www.chevening.org/indonesia/

Tahapan selanjutnya adalah jika esai kamu lolos seleksi, kamu akan mendapatkan undangan untuk menghadiri wawancara panel di kedutaan Inggris. Surprisingly, di bulan Februari 2018, saya menerima kabar baik tersebut. Kaget sih, karena saya gak menyangka bahwa diantara ribuan pendaftar dari Indonesia, tulisan saya masih diperhitungkan oleh pihak Chevening.

The 30-minutes interview was an experience that I would love to share with anyone who have interest to apply for the scholarship. 🙂 Ada beberapa hal yang berkesan bagi saya selama wawancara berlangsung.

‘Till next post!

*

 

Okonomiyaki, Makanan Wajib Saat Berkunjung ke Osaka

Liburan musim dingin sudah dimulai. Bagi kawan-kawan yang sudah punya rencana, khususnya ke Jepang (iya, soalnya tulisan kali ini mau ngomongin tentang kuliner di Osaka, hahaha), dan akan berkunjung ke Osaka, kamu wajib mencoba menu makanan ini.

Yes, Okonomiyaki! Sebenarnya penganan yang satu ini dapat ditemukan di seluruh Jepang. Namun, Okonomiyaki sangat populer di Osaka. Katanya sih, Osaka merupakan kota asal dari menu khas Jepang ini, jadi wajib makan di resto Okonomiyaki. Sebelum berangkat, salah satu sahabat saya merekomendasikan Mizuno, restoran Okonomiyaki yang terkenal di kalangan turis. Saya kurang tahu sih apa yang membuat Mizuno begitu istimewa, karena kalau saya lihat di TripAdvisor, konsep restonya sama saja dengan resto Okonomiyaki yang saya pilih.

Oke, jadi gini ceritanya. November lalu saya berangkat ke Jepang untuk kedua kalinya, dan dalam perjalanan kali ini, saya membagi waktu untuk menyambangi Osaka, Kyoto, Nara, dan berakhir di Tokyo. Saya sengaja memilih untuk turun di Haneda, supaya bisa menikmati shinkansen menuju Osaka. Memang harus berkorban budget lebih besar sih, karena saya harus membeli JR Pass seharga 3 juta-an Rupiah dari Indonesia.

Hari pertama mendarat di Osaka, saya mengunjungi area Namba dan Dotonburi untuk mencari tempat makan malam. Awalnya saya mencari resto Mizuno dengan bermodalkan Google Maps. Ketika tiba di lokasi tujuan, saya langsung mengurunkan niat saat melihat antrian yang mengular panjang di depan restoran. Kembali mencari rekomendasi di internet, muncul satu nama resto Okonomiyaki yang rating-nya cukup tinggi di Google. Meski letaknya tidak di jalanan utama Namba, namun Ajinoya ini juga memiliki antrian yang cukup panjang. Sempat ingin beralih ke tempat lain, tetapi pilihan jatuh ke tempat ini. Kami (silakan ditebak sendiri yah saya pergi dengan siapa, hahaha) mengantri sekitar 30-40 menit, dan karena hanya berdua, kami mendapat meja di dekat bar, tepat berhadapan dengan koki resto Okonomiyaki tersebut.

Serunya, kami bisa melihat langsung proses pembuatan Okonomiyaki dan kita bisa langsung menikmatinya dari tempat memasak. Minusnya adalah udara yang panas dan berasap karena berdekatan dengan kompor. Selain Okonomiyaki, kami juga memesan takoyaki, dan ditemani pula dengan dua botol draft beer. 

Ajinoya 1
Can you spot the egg? #salahfokus
Ajinoya 2
Okonomiyaki galore! at Ajinoya

Okonomiyaki ini terdiri dari beberapa jenis bahan yang mayoritas adalah sayuran dan potongan daging ayam, sapi, atau babi. Kemudian adonannya dicampur dengan tepung dan telur, dan langsung dituangkan di atas penggorengan. Kalau di Indonesia, mungkin mirip Fu Yung Hai, hahaha, tapi  lebih tipis dan memang dibuat agak berantakan tampilannya. Okonomiyaki dinikmati dengan saus kecap manis dan taburan bonito flakes. Kebayang ya gurihnya seperti apa…

Karena berbahan dasar telur dan tepung, makan dua porsi saja sudah bikin kenyang. Tentu akan lebih nikmat jika sambil minum bir lokal Jepang, hehe. Kalau kamu tidak minum bir, jangan khawatir – mereka menyediakan air putih dingin, tanpa tambahan biaya alias gratis.

Awalnya kami juga ingin memesan seporsi Yakisoba, karena terlihat sangat menggiurkan, tetapi perut kami berkata lain, hahaha. 

Bagi yang sedang atau akan main ke Osaka, jangan lupa untuk mencicipi Okonomiyaki yah! Ajinoya bisa menjadi salah satu alternatif yang saya rekomendasikan. Selamat mencoba!

***

Ajinoya

1-7-16 Namba, Chuo-ku, Osaka 542-0076, Osaka Prefecture

+81 6-6211-0713

 

Mengunjungi Kota Ruteng di Nusa Tenggara Timur

Memasuki bulan kelima saya bekerja di perusahaan ini, saya mengalami dua kali perjalanan dinas yakni ke kota Surabaya, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur. Dinas yang kedua ini sangat berbeda, karena sebenarnya saya seperti sedang pergi berlibur sambil mendampingi salah satu dewan komisaris perusahaan yang ingin mengunjungi situs arkeologi. Ini adalah kali pertama saya bertandang ke bagian timur Indonesia, untuk mengunjungi kota kecil dan sejuk, bernama Ruteng.

Ruteng 5

Perjalanan panjang dan cukup melelahkan harus saya lalui untuk mencapai kota ini. Tetapi, jangan khawatir – Nusa Tenggara Timur akan membayar semuanya dengan pemandangan dan lansekap yang luar biasa indah dan sangat menyegarkan mata. Langit yang biru, barisan pegunungan, dan udara yang bersih. Hal-hal yang tidak bisa saya temukan di Jakarta.

Untuk mencapai kota Ruteng, saya harus menumpangi penerbangan menuju ke Denpasar untuk transit, dan selanjutnya menggunakan pesawat ATR menuju Labuan Bajo. Setibanya di Labuan Bajo, tepat saat pesawat mendarat sempurna, sinyal operator seluler saya langsung hilang dan muncul tanda emergency call. Rasanya ingin menangis, hahaha. Ternyata, sinyal operator seluler yang tersedia di sana hanya TELKOMSEL. Jadi, selama Anda berada di NTT, ucapkan selamat tinggal pada operator seluler selain Telkomsel ini. Siang itu, kami dijemput oleh perwakilan dari salah satu anak perusahaan tempat saya bekerja, yang kebetulan punya kantor cabang di kota ini.

Karena hari masih siang, saya dan rombongan memutuskan untuk berwisata sejenak di Labuan Bajo. Kami menikmati makan siang di restoran Italia dan setelahnya mengunjungi sebuah tempat bernama Batu Cermin. Tiket masuknya seharga Rp 10,000 per orang. Selain karena udara yang panas, saya harus masuk ke dalam gua sempit dan jalur yang berbatu terjal untuk sampai pada titik yang disebut Batu Cermin ini. Sangat menantang dan membuat keringat mengalir deras, tapi bagi saya ini pengalaman yang menyenangkan. Disebut Batu Cermin karena ketika pengunjung tiba di view point, pengunjung dapat melihat sebuah celah di atas gua yang memantulkan refleksi seperti cermin.

Dari Labuan Bajo, saya melanjutkan perjalanan ke Ruteng yang akan ditempuh dalam waktu 4 jam. Di luar perkiraan saya, empat jam ini terasa sangat menyiksa, hahaha. Kota Ruteng terletak di dataran tinggi – suhunya lebih dingin dari Labuan Bajo. Untuk mencapai kota itu, saya harus melalui kontur jalanan yang sangat berkelok-kelok. Ditambah lagi karena kelelahan, saya merasa sangat pusing dan mual. Selama perjalanan, saya disuguhkan pemandangan yang menyegarkan pikiran. Tidak ada gedung-gedung pencakar langit – bahkan hampir tidak ada minimarket yang sering bersebelahan itu, atau chain supermarket ternama. Kebutuhan pokok dijual di pasar atau toko kelontong kecil milik warga sekitar. Tidak ada pusat perbelanjaan, lokasi ATM yang terbatas (disana hanya ada BRI), dan tidak ada kemacetan. Selama di perjalanan pun saya hanya menemukan air mineral botol produksi lokal dengan merek “Ruteng”.

Ruteng 3

Saya tiba di penginapan di Ruteng sekitar pukul 7 malam. Udara malam hari di Ruteng sangat dingin – kami pun segera check-in dan menuju ke restoran hotel untuk makan malam. Sepertinya Ruteng bukan kota turis – sehingga cukup sulit untuk mencari restoran di luar kawasan hotel. Usai makan malam, kami semua kembali ke kamar masing-masing untuk berisitirahat. Esok paginya, kami memulai perjalanan menuju ke Liang Bua – sebuah situs arkeologi yang menjadi salah satu sumber informasi tentang perkembangan sejarah manusia purba. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 1.5 jam. Pemandangan lansekap tanah Nusa Tenggara Timur disuguhkan untuk kami. Pagi itu matahari bersinar cerah ditambah dengan udara yang sangat segar.

Ruteng 1
Area bungalow di Spring Hill, Ruteng, Nusa Tenggara Timur

Ruteng 2

Ruteng 4

 

Selesai dari Liang Bua, saya dan rombongan kembali ke hotel untuk makan siang dan free time hingga waktu makan malam. Selama di Ruteng saya lebih banyak menghabiskan waktu istirahat di hotel, karena tidak begitu banyak tempat yang bisa saya kunjungi atau berencana untuk didatangi. Keesokkan harinya, saya check-out dari hotel dan berangkat menuju Labuan Bajo, untuk makan siang dan melanjutkan penerbangan ke Jakarta, via Denpasar. Saya dan rombongan yang kembali ke Jakarta menikmati makan siang di sebuah restoran yang letaknya persis di seberang bandara Komodo. Cuaca sangat terik dan berangin siang itu.

Meski sudah datang ke bandara Komodo tepat waktu, penerbangan kami ternyata mengalami keterlambatan hingga 2 jam. Alhasil, kami pun melewatkan penerbangan transit di Denpasar, dan terpaksa dialihkan ke penerbangan berikutnya.

Perjalanan singkat selama 3 hari ke Ruteng memberikan pengalaman yang berkesan bagi saya.

Ruteng 6
Suasana di ruang tunggu Bandara Komodo, Labuan Bajo

 

Tujuan Terakhir : Busan.

Maafkan penulis yang mangkir selama dua bulan ini dan belum menulis cerita terakhir  dari rangkaian perjalanan musim dingin ke Korea Selatan. The past two months have been quite challenging, as I was moving to a new work environment and still  going through some adjustment, hehehe. So, shall we start?

Selain jalan-jalan, hari ini sebenarnya merupakan alasan utama yang memotivasi saya pergi ke Korea Selatan: menghadiri acara wisuda sahabat saya. Setelah hampir seminggu mengeksplorasi kota Seoul, kini saatnya saya mendatangi salah satu kota turis yang terkenal di Korea Selatan, yaitu Busan. Karena arus perjalanan kereta dari Seoul ke Busan cukup padat, maka kami sudah membeli tiket jauh-jauh hari dan ketika kami tiba di Korea, kami pun melakukan reservasi kursi di Seoul Station, sebagai stasiun keberangkatan. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, khusus hari ini kami bertiga wajib bangun subuh dan tidak boleh terlambat. Acara wisuda sahabat saya akan dimulai pukul 10 pagi. Kami menumpang kereta cepat yang berangkat pukul 06.10 dari Seoul Station. Hari itu kami bangun sekitar pukul 4 pagi, merapikan barang bawaan, dan bergegas naik taksi menuju stasiun. Meski metro atau subway sudah beroperasi, tetapi mengingat waktu yang terbatas, kami pun mengambil opsi tercepat.

Kami tiba di stasiun sekitar 30 menit sebelum waktu keberangkatan. Selain karena ini adalah liburan musim dingin perdana dan acara wisuda, saya sangat excited ketika merencanakan pergi ke Busan karena di Seoul Station inilah lokasi syuting salah satu film Korea yang terkenal – Train to Busan. Maaf kalau sedikit norak – tetapi saat saya berada di stasiun ini, saya merasa seperti masuk dalam adegan awal film tersebut dan rasanya seperti nyata, hahaha. 

Busan 1

Busan 2

Saat jam menunjukkan pukul 06.10, kereta langsung berangkat. Tidak banyak penumpang yang naik dari stasiun ini, tetapi kereta mulai terisi penuh saat berhenti di stasiun berikutnya. Perjalanan dari Seoul menuju Busan memakan waktu sekitar 2.5 jam. Kami tiba di Busan Station sekitar pukul 9 pagi, dan langsung mengambil taksi menuju Silla University, tempat sahabat saya diwisuda. Berbeda dengan Seoul, bagi saya Busan seperti kota sub-urban. Selain itu, kota ini juga dekat dengan laut sehingga terdapat beberapa pelabuhan untuk barang. Surprisingly, cuaca di Busan jauh lebih hangat saat musim dingin.

Memasuki pelataran universitas, terlihat banyak tamu-tamu yang memenuhi area tersebut dan juga calon wisudawan/wisudawati yang bertoga hitam. Saya juga melihat beberapa penjual karangan bunga warna-warni. Saya dan Dian pun memutuskan untuk membeli satu buket bunga warna hijau untuk Helga, hahaha. Setelah mengambil toga, kami bersama tamu lain naik ke auditorium universitas untuk melihat prosesi seremonial kelulusan. Acaranya sangat sederhana – hanya berdurasi sekitar 1.5 jam. Meski kursi yang disediakan terbatas, beruntung kami masih mendapatkan tempat duduk. Saya dan Dian, yang saat itu mendengarkan seluruh pidato dan rangkaian acara wisuda yang dibawakan dalam bahasa Korea, merasa seperti lost in translation, hahaha. Tidak paham apa artinya, tapi kalau didengarkan terus-menerus, rasanya sangat lucu.

Busan 3

Selesai sudah acara wisuda pagi itu. Akhirnya sahabat saya resmi menyandang gelar Master untuk program PR dan Advertising. Karena sahabat saya ini akan segera kembali ke Indonesia minggu depan, maka hari itu ia manfaatkan untuk mengurus keperluan administrasi dan dokumen lainnya. Sementara menunggu, saya dan Dian mulai mencari-cari tempat makan di area kampus. Kami pun memilih Mom’s Touch – kedai ayam goreng Korea. Kali ini kami tidak berdua saja – melainkan ditemani teman baru kami yang asli orang Korea (tetapi bisa dan sedang belajar bahasa Inggris).

Dari Silla, kami mampir ke tempat kost sementara sahabat saya untuk mengambil beberapa barang. Rupanya tidak hanya Seoul yang kontur jalannya berbukit, Busan pun demikian – bahkan lebih curam!

Busan 4

Saya tidak memiliki cukup waktu untuk berwisata di Busan – karena kami sudah membeli tiket kereta kembali ke Seoul sekitar pukul 4 sore. Setibanya di Seoul, karena lokasi penginapan kami yang dekat dengan Myeong-dong, maka kami menaruh barang-barang dahulu, dan….kembali ke Myeong-dong untuk jalan-jalan dan makan malam, hahaha. Ini kali ketiga kami kesana selama satu minggu di Korea.

Malam itu kami mencoba menu baru, yakni Jjimtak. Kalau di Indonesia, Jjimtak ini sangat mirip dengan semur ayam. Dimasak dengan tumisan bawang bombay, rempah, sayuran, dan kecap, satu porsi Jjimtak bisa dinikmati 4-5 orang. Jjimtak yang kami pesan padahal ukuran yang paling kecil, tapi pun kami masih kesulitan menghabiskannya bertiga.

Busan 5

Suhu malam itu menurun cukup drastis – hampir menyentuh angka -11 derajat Celcius. Ditambah lagi dengan angin yang sangat dingin. Setelah berkeliling Myeong-dong sekali lagi, kami bertiga kembali ke penginapan. Banyak barang bawaan yang harus kami rapikan. Besok, kami akan kembali ke Jakarta pada pukul 10.55.

Meski kedinginan, lelah menyusuri kota Seoul dan Busan yang berbukit, perjalanan saya di Korea Selatan memberikan pengalaman yang unik dan menyenangkan. Banyak hal baru yang saya temui selama perjalanan, dan banyak pula  hal-hal yang saya nikmati, seperti udara bebas polusi dan birunya langit musim dingin.

Pagi itu, saya dan Dian menumpang airport limousine menuju Incheon (KRW 15,000 untuk sekali jalan). Helga hanya mengantar kami karena lusa nanti, keluarganya akan bertandang juga ke Korea. Kami hampir terlambat karena ternyata bandara Incheon sangat ramai di akhir pekan. Antrian mengular saat security check  dan imigrasi. Kami sempat berlarian menuju boarding gate, tetapi untungnya ketika kami sampai, gate belum dibuka karena masih menunggu penerbangan sebelumnya lepas landas.

Setibanya di Jakarta, sekitar pukul 16.30 waktu setempat, kami langsung kepanasan, hahaha, karena masih mengenakan pakaian berlapis.

End of winter trip. 

Saatnya kembali ke rutinitas, sembari merencanakan perjalanan selanjutnya. 🙂

 

 

 

Mengunjungi Korean Demilitarized Zone (DMZ)

Menjelang hari-hari terakhir perjalanan musim dingin di Seoul, saya dan teman-teman menghabiskan hampir setengah hari untuk mengunjungi salah satu area turis yang populer di Korea Selatan, yakni Korean DMZ. Terletak di perbatasan dengan Korea Utara, area ini memiliki penjagaan militer yang ketat. Perjalanan dari Seoul menuju daerah Paju (atau mungkin Imjingak) membutuhkan waktu sekitar 1 jam.

Perjalanan menuju Imjingak rupanya tidak terlalu mudah – dan mungkin agak menegangkan bagi solo traveller, hahaha. Sesampainya di stasiun terdekat, kami berupaya mencari petunjuk dan jalan menuju ke Imjingak tersebut. Meski bertemu dengan jalan raya, tetapi kondisinya sangat sepi dan jarang terlihat mobil yang lalu-lalang, atau bahkan mengantri di lampu merah. Setelah menepi di sebuah halte, kami menemukan informasi terkait bis yang harus kami naiki untuk sampai kesana. Setelah menunggu hampir 30 menit, bis tersebut akhirnya datang. Selama perjalanan, akhirnya kami mulai masuk ke daerah pemukiman yang cukup ramai. Bis pun mulai dipenuhi penumpang. Namun, semakin mendekati tempat yang kami tuju, kami melihat semakin sedikit perumahan warga. Sisi kiri dan kanan kami lebih banyak padang rumput dan jalan aspal yang sempit. Hanya terlihat beberapa rumah warga di area tersebut. Cukup menegangkan – apalagi kalau sore hari, kelihatannya daerah ini agak minim penerangan.

DMZ 8
Suasana di dalam bis nomor 058 menuju Imjingak

Selama perjalanan itu pula saya melihat beberapa mobil tank dan kelompok militer melintas. Kami bertiga mengabadikan momen tersebut lewat Instagram Stories, hahaha. Hal yang langka melihat kendaraan militer sebesar itu melintasi jalan raya dan area umum.

DMZ 2
Tank militer melintas di jalan raya bersama dengan mobil polisi dan transportasi umum lainnya

Sebenarnya, area yang kami kunjungi hanya di area umum Imijingak, belum sampai ke titik perbatasannya yang dijaga secara ketat oleh tentara. Jadi kali ini, saya tidak punya banyak cerita detail soal DMZ. Yang ideal adalah melanjutkan perjalanan hingga Dora Observatory – karena ini adalah spot utama dari DMZ. Namun, untuk mencapai tempat tersebut, pengunjung harus mengikuti grup tur khusus. Ketika itu saya juga melihat beberapa bus turis yang transit di area ini.  Kisah lengkap tentang sejarah atau cerita dibalik Korean DMZ ini, dapat kamu telusuri di internet ya.

Berikut adalah hal-hal yang saya lihat di Imjingak.

DMZ 10
Suasana jalan raya di Imjingak
DMZ 3
Taman Pyeonghwa-Nuri, Imjingak

DMZ 4

DMZ 1
Pemandangan lansekap area perbatasan dari gedung DMZ di Imjingak
DMZ 5
Viewing Area – pengunjung dapat menggunakan teropong untuk melihat dari kejauhan

DMZ 6

DMZ 7
Danau yang masih membeku di dalam area DMZ
DMZ 9
Pita betuliskan pesan perdamaian dan harapan warga Korea Selatan

Sekitar pukul 4 sore kami kembali menunggu bus menuju Seoul. Hari ini kami akan kembali ke guest house lebih awal. Besok adalah hari terakhir perjalanan di Korea Selatan, dan….kami akan berangkat ke Busan! Besok pula salah satu dari kami bertiga akan merayakan wisuda program Master di Silla University. Kereta KTX kami akan berangkat puku 06.10 pagi dari Seoul Station dan kami tidak boleh terlambat.

xx.